Menapaki Dunia menuju Keabadian Sejati

.عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَDari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir . Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan Apabila engkau berada di sore hari maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu. {HR. Al- Bukhariy no.6416}

Malam Jumat, larut malam saat tiba di rumah hampir pukul 12.00wib. Putra-putri telah terlelap dalam istirahat tidurnya, kubersihkan diri agar lebih nyaman istirahatku malam ini. Meski lelah terasa tapi mata dan fikiran ini masih belum ingin di ajak tidur, kunyalakan PC disudut ruang rumahku dan berusaha mengingat-ingat kembali kejadian apa saja yang kutemui seharian ini.

Ada beberapa ketidak adilan ku alami, satu – dua -tiga-empat aaah banyak juga ternyata. Tapi coba ku ingat-ingat lagi peristiwa sebelum ketidak adilan itu nyata, aaa….. ku ingat  mereka juga pernah berbuat baik pada saya.

tak..tik..tak..tik  suara keyboard dari tekanan tangankuku mungkin terdengar istriku di kamar sebelah, seraya menyiapkan teh hangat dia menghampiriku. Sesaat dia membaca apa yang sedang aku tulis lalu berucap,”Ada kejadian apa samapi abi menulis ini, Serius?”. Aku menanggapi,”Biasa aja, cuma pingin mendokumentasikan bagaimana seharusnya cara terbaik kita melalui perjalanan hidup ini”. Jika pengalaman ruhani ini aku tulis maka akan ada banyak orang yang membaca, smoga saja bisa bermanfaat untuk mereka. Dari situ panjang umur akan bisa kita peroleh.

Istriku menimpali lagi,” Iya, buat apa kita membenci orang yang berbuat kejelekan pada kita atau berbuat curang pada kita, toh mereka juga pernah melakukan kebaikan pada kita, meski kita tidak mengerti betul ada maksud apa dibalik itu semua”.

“Ya, Hidup ini seperti perjalanan seorang musafir. Coba kita bayangkan saat kita mudik lebaran dalam suasana kereta dengan banyak penumpang yang berlainan tujuan akhirnya. Untuk menyamankan diri kita menjalani perjalanan itu mulai  awal antri tiket, hunting nomer tempat duduk, memulai perjalanan hingga transit di stasiun2 yang memang sudah ditentukan kita tidak pernah terlalu ingin lama dan tetap bertahan pada lokasi transit tersebut. Kita hanya memenuhi kebutuhan badan sekedarnya, buang air kecil, membeli makan, merokok sebentar atau menghirup udara segar di stasiun luar kota yang kebetulan udara lebih segar dari di Jakarta lalu kereta melanjutkan perjalanan maka kita patuh tanpa disuruh kembali ke gerbong dan duduk pada kursi yang sudah menjadi hak kita dan merasakan kembali perjalanan selanjutnya” ucapku dengan santai pada istri.

Kami berdua diam sejenak mencoba merenungi kembali ke unikan hidup ini. Aku berujar,” Untuk sejenak waktu transit dlm hidup setelah mati, tak perlu kiranya kita di susahkan oleh segala urusan dunia, ambil semestinya berbuat yang terbaik tanpa perlu juga ngoyo, takutnya malah tertinggal kereta nambah susah lagi…..hehehehe…..,” aku tertawa karena teringat adikku pernah tertinggal kereta saat pulang kampung karena kesalahan koordinasi dengan ayah yang aku lakukan.

Sudah menjelang jam 1.30 dini hari besok masih ada satu hari kerja, baiknya aku istirahat memberi keadilan untuk hak tubuhku. Istriku juga harus bangun dan memasak jam 3 dini hari untuk putri-putriku sekolah. Mereka kurang pas dengan menu katring yang disediakan sekolahnya.

Wallohua’lam

B6A No.10 (Hadza Min Fadli Robbi)

Bogor 13 April 2012, bertepatan Usiaku yang ke 38 menuju 40 masa kestabilan ruhani seorang manusia.

Kuhadiahkan Kemanfaatan Tulisan ini Untuk :

1. Alloh dan Rosul-NYA (meski aku yg membutuhkan kebaikan)

2.Ibunda Ulfiyati Tercinta

3. Mbah, Buyut nasab dari Emak & Bapak

4. Istriku Manies senyum yang manies (juga putra-putri).

5. Seluruh Orang yang mengenalku.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s