73 Kebaikan Untuk 1 Kesusahan

by Bahtiar Hs on Saturday, August 18, 2012 at 9:14am ·

Kasyful Ghummah Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (9)

 

Hadits-hadits pada bab 8 Kasyful Ghummah ini berbicara tentang banyak hal, tetapi jika diperas, menurut saya, intinya satu hal: keutamaan menghilangkan kesulitan orang lain. Abuya membuka bab ini dengan mengetengahkan sebuah hadits populer dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

Muslim adalah saudara muslim. Tidak menganiayanya dan tidak pula menghinakannya. Barang siapa ada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti ada dalam kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah Menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan hari Kiamat. Barang siapa menutupi seorang muslim, maka Allah pasti Menutupinya pada hari Kiamat. (Muttafaqun ‘alaih)

Abuya memberi catatan bahwa yang dimaksud “tidak pula menghinakannya” itu adalah tidak berpaling dari menolongnya, seperti menolak hal yang menyakitkan darinya, mencegahnya agar tidak menyakiti orang lain, mendamaikan antara dirinya dengan saudaranya, memberikan pertolongan jika meminta pertolongan, menyuruhnya berbuat baik, mencegahnya dari perbuatan mungkar, dan sebagainya.

 

Kalimat yang ditekankan pada hadits ini adalah “Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah Menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan hari Kiamat.” Meski Abuya tak memberi catatan pada kalimat ini, tetapi yang menarik adalah bahwa kesusahan (kurbatan) dalam kalimat itu berbentuk nakirah (umum). Karena itu, kesusahan yang dimaksud mencakup kesusahan dalam bentuk apa saja, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang ringan hingga yang berat. Abi Ihya Ulumiddin, salah seorang santri Abuya dari Indonesia yang menerjemahkan kitab ini, sering memberi contoh: menata sandal atau sepatu; apakah di rumah, di masjid, atau tempat lainnya. Kelihatannya sepele. Kita melepas sandal atau sepatu ketika masuk masjid dan biasa meletakkannya sembarangan. Cenderung berserakan. Nah, menata sandal atau sepatu berserakan para jamaah sehingga menjadi rapi dengan posisi siap pakai jika keluar masjid (diposisikan searah dengan posisi telapak kaki misalnya) akan menghilangkan banyak ‘kesusahan’ para jamaah. Kesusahan mencarinya, kesusahan memakainya, kesusahan antri (harus mencari-cari jika berserakan). Belum lagi menata sandal jamaah ini juga bagian dari menata hati. Bagaimana tidak? Boleh jadi di antara sandal-sandal itu ada sandal santrinya (bagi guru), sandal mantunya (bagi mertua), sandal anaknya (bagi orang tua), sandal istrinya (bagi suami), sandal pembantunya (bagi majikan), sandal anak buahnya (bagi atasan), sandal musuhnya (bagi yang punya musuh, misalnya), dan sebagainya.

 

Subhanallah! Sepele kelihatannya, tetapi banyak nian kesusahan yang dihilangkannya, di sampingpelajaran hati yang luar biasa dari sekedar menata sandal. Sambil berseloroh (tetapi mungkin ada benarnya), Abi Ihya mengatakan, “Siapa tahu ada yang menjadi waliyullah hanya karena   menata sandal.”

 

***

 

Hadits-hadits yang kemudian disampaikan berkutat tentang upaya-upaya menghilangkan kesusahan ini. Pada hadits di atas, “menutupi seorang muslim”, yakni menutupi aurat atau aibnya –saya kira, adalah bagian dari menghilangkan kesusahan jika aib itu terbongkar luas. Pada beberapa hadits yang lain disebutkan:

  • Orang yang berusaha mencukupi kebutuhan wanita janda dan orang miskin adalah seperti orang berjalan di jalan Allah (fi sabilillah). (Muttafaqun ‘alaih). Berusaha mencukupi kebutuhan janda dan orang miskin tentu menghilangkan kesulitan mereka karena ditinggal suami penopang kehidupan keluarga atau karena tidak mampu / berpunya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
  • Barang siapa mengurungkan (memaafkan) jebakan dosa (kesalahan) seorang muslim, maka Allah pasti mengurungkan (memaafkan) kesalahannya kelak di hari Kiamat. (HR. Thabaraniy, Ibnu Hibban, Abu Dawud, Ibnu Majah). Memaafkan kesalahan tentu menghilangkan kesusahan yang bersangkutan di pengadilan akhirat kelak.
  • Barang siapa menuntun orang buta (sejauh) empat puluh langkah, maka surga dipastikan baginya.  (HR. Thabaraniy, Baihaqi, Abu Ya’la). Menuntun orang buta tentu menghilangkan kesusahan dia dalam berjalan.
  • Siapapun muslim yang memberikan pakaian kepada muslim (lain) yang sedang dalam keadaan telanjang, maka Allah pasti Memberikannya pakaian dari hijau-hijau surga. Dan siapapun muslim yang memberikan makan muslim (lain) yang kelaparan, maka Allah pasti Memberinya makan dari buah-buah surga. Siapapun muslim yang memberi minum muslim (lain) yang kehausan, maka Allah pasti memberinya minum dari Rahiq Makhtum. (HR. Abu Dawud, Turmudzi). Memberi pakaian, makan, dan minum adalah menghilangkan kesusahan orang dari ketelanjangan, kelaparan, dan kehausan. Rahiq Makhtum, tulis Abuya, adalah minuman yang tak pernah disentuh siapapun sebagai bentuk memuliakan peminumnya.

Menghilangkan kesusahan itu juga bisa dalam bentuk (sekedar) ucapan. Tidak harus bermodal harta benda / barang (seperti pernah kita singgung di awal tulisan tentang kitab ini). Hal ini tercermin dalam hadits Nabi yang dinukil Abuya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

Barang siapa berjalan bersama saudaranya dalam satu kebutuhan, ia lalu memberikan nasihat (mengharapkan kebaikan)  kepadanya dalam kebutuhan tersebut, maka Allah Menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit, di mana jarak antara parit satu dengan satunya adalah (seperti) jarak langit dan bumi. (HR. Abu Nuaim, Ibnu Abi Dunya, Thabaraniy).

 

Menghilangkan kesusahan orang lain itu bisa dengan nasihat kepada kebaikan berkaitan dengan kebutuhan orang tersebut. Nasihat itu bisa berupa saran, sumbangan pemikiran solusi, pertimbangan, pencegahan (dari berbuat jelek), penghiburan (atas musibah), dan sebagainya. Bahkan kata Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits –riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya sebagaimana disebutkan dalam Arba’in Imam An-Nawawi– bahwa agama adalah nasihat (ad-dinu an-nasihat). Nasihat secara bahasa berasal dari kata ‘nash’ yang berarti halus, bersih, atau murni. Lawan dari curang atau kotor. Karena itu, nasihat harus jauh dari kecurangan dan motivasi kotor. Sedangkan secara istilah, nasihat berarti kata-kata yang mengungkapkan berbuat baik kepada obyek yang diberi nasihat. ‘Nash’ juga bisa bermakna menjahit, seperti pada kalimat ‘nashaha tsaub’ yang berarti menjahit baju. Oleh karena itu, nasihat seolah-seolah seperti seorang yang menjahit potongan-potongan kain menjadi baju atau menjahit lubang-lubang yang ada di baju (mungkin karena lubang, sobek) sehingga menjadi baju yang utuh dan sempurna.

 

Saking pentingnya kedudukan nasihat ini dalam agama, para ulama sampai mengatakan bahwa nasihat mencakup permasalahan yang besar, seperempat bagian dari agama. Bahkan Mukhidin bin Al-Arabi mengatakan, “Tidak ada kesempurnaan akhlaq yang lebih teliti, jeli, dan agung melebihi nasihat.” Karena itu, sangat beralasan jika nasihat mampu “menghilangkan kesusahan” orang lain meski hanya dalam bentuk ucapan / kata-kata.

 

***

 

Menghilangkan kesusahan orang lain pasti mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah subhanahu wata’ala. Dari hadits pertama saja jenis balasan itu sudah tiada tara besarnya; yakni Allah akan menghilangkan satu kesusahan di antara berbagai kesusahan di akhirat, termasuk ketelanjangan, kelaparan, dan kehausan di saat orang sibuk dengan beratnya urusan masing-masing di hari itu hingga seorang ibu lupa akan anaknya. Di samping itu, balasan itu berupa ganjaran seperti seorang yang berjihad fi sabilillah dengan membantu janda dan orang miskin, surga dengan menuntun seorang buta 40 langkah, dijauhkan tujuh parit dari neraka yang satu paritnya sejauh langit dan bumi dengan memberi nasihat kepada saudaranya. Walhasil, balasan yang kita terima dengan upaya ‘kecil’ menghilangkan kesusahan saudara kita (selama di dunia) sungguh berlipat ganda.

 

Satu hadits yang saya kira mewakili hal ini dinukil Abuya, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

Barang siapa menolong orang yang dilanda kesulitan, maka Allah pasti menulis untuknya 73 kebaikan (di mana) satu kebaikan di antaranya adalah Allah Memperbaiki akhiratnya. Sementara 72 (lainnya) adalah derajat-derajat untuknya pada hari Kiamat. (HR. Abu Ya’la, Bazzar, Baihaqi, Bukhari)

 

Dalam bahasa Arab penggunaan angka atau jumlah 72, 73 dan seterusnya sering dimaknai ‘sangat banyak’. Seperti dalam hadits bahwa umat ini kelak akan terpecah ke dalam 73 golongan. Maksudnya boleh jadi bukan pas jumlahnya 73 golongan, melainkan jumlah golongan pecahan itu sangat banyak.

 

Karena itu, mari kita berupaya menjadi muslim yang –orang Jawa bilang– enthengan (ringan tangan) menghilangkan kesusahan saudara kita, apapun bentuknya, besar-kecilnya, berat-ringannya. Toh, jika tidak mampu dengan harta benda, tenaga, atau kekuasaan, kita masih bisa membantunya dengan nasihat –yang itu tidak kalah keutamaan dan nilai pahalanya di sisi Allah.

 

Wallahu a’lam.

 

***

 

Referensi:

Bisa dibaca pula di: http://bahtiarhs.net/2012/08/73-kebaikan-untuk-1-kesusahan/

 

One thought on “73 Kebaikan Untuk 1 Kesusahan

  1. Pingback: Monoton | humorisiora.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s